7 Agt 2008

Kontraktor Arsitektur Bali

CV Balidwipayana Denpasar Adalah perusahaan kontraktor yang berpengalaman selama 10 Tahun yang melayani jasa lengkap kontruksi mulai dari design, rancang bangun, desain interior dari berbagai jenis bangunan private maupun komersil desain gambar,Rumah Tinggal,interior Ruangan ,denah,sketsa,yang dikhususkan bagi personal maupun corporate yang sedang merencanakan project yang menginginkan ketepatan waktu, desain yang kreatif hasil pekerjaan yang berkualitas tinggi dengan biaya local bersaing. Melayani konsultasi desain arsitek rumah tinggal minimalis modern design interior gambar renovasi jasa embangunan kantor bangunan Rumah idaman

PRODUK DAN LAYANAN KAMI

Melayani Bangunan ,Design ,Renovasi Hotel, Villa, Homestay Rumah Tinggal , Rumah Toko ,Design Interior Idaman Anda
Bersama Arsitek,Sipil dan Tukang Berpengalaman Cepat, Berkualitas, harga Ekonomis Teampro-bangunan Design Jasa Arsitektur, Membangun dan Merenovasi Rumah dan Kantor

Kami menyediakan Layanan lengkap mulai dari nol hingga serah terima kunci yang didukung oleh tenaga- tenaga arsitek, sipil, tukang bangunan berpengalaman, telah puluhan tahun bekerja berkarya di bidang rancang bangun. Memberikan solusi kepada Anda bukan hanya disain jasa arsitektur,bongkar rumah,desain rumah atau sketsa pelaksanaan proyek, tetapi juga kami memiliki solusi biaya yang dapat di hemat, dengan sistem pelaksanaan bangunan yang fleksibel sesuai harga,biaya,budget Keuangan kebutuhan Anda.


Kreatif disain dari berbagai tipe gaya terbaru rumah bangunan, Desain minimalis,tropis,modern,mediterania/mediteran,kolonial, tradisional asri,mungil,mewah,sederhana,besar,kecil, kayu,kost / kos maupun adat bali,dengan hasil pekerjaan cepat rapi adalah komitmen kami untuk mewujudkan rumah / bangunan / kantor impian Anda. Dengan konsep religius bali yang mengutamakan Konsep :

Tri Hita Karana yaitu :

1. Hubungan Antara Manusia dengan Tuhan

2. Hubungan manusian dengan Manusia

3. Hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitar

Sehingga membuat bangunan/hunian anda menjadi aman, nyaman, sejuk, indah dan bercahaya.

Kami juga melayani :

Bangunan Pemukiman :
Rumah Pribadi,Rumah Susun, Apartemen

Bangunan Pendidikan :
kursus, Sekolah

Bangunan Kesehatan :
Klinik, Rumah Sakit, Pusat Rehabilitasi

Bangunan Komersil :
Toko/Kios,Ruko,Restoran,Pasar,Mal,Plaza,Hotel

Bangunan Perkantoran :
Kantor,Rukan,

Bangunan Olah Raga/Rekreasi :
Taman,Gymnasium,Konservatorium

Bangunan Industri :
Gudang,Bengkel,Pabrik

Bangunan Transportasi :
Halte,Terminal, Stasiun, Bandara,Pelabuhan

Infrastruktur :
Jalan, Jembatan, Menara, Bendungan

Instalasi Listrik Arus Kuat :
Penerangan, Stop Kontak, Daya,Tegangan Menengah, Diesel generator ,Pentanahan, penyalur / Penangkal Petir

Instalasi Listrik Arus menengah :
Sistem Kebakaran,Telepon,Tata /Kedap Suara,CCTV,MATV

Instalasi Sanitasi, Drainase Pemipaan :
Sistem Plumbing,Pengolahan Limbah

Instalasi Tata Udara :
Sistem AC, Ventilasi

Instalasi Transportasi :
Elavator,Escalator,Gondola,


Konsultan Rumah Minimalis Jasa Desain Interior Gambar Moderen Bangun Design
Renovasi


Penawaran Spesial


Gratis !
Konsultasi 1x Pertemuan
Gratis!
Desain Gambar & RAB
Bila Anda Menelepon Kami Sekarang

CV Balidwipayana Denpasar
Marketing Office:
JL. P. Saelus XII No.14 Denpasar
Tel : 0361-8068728

Hp: 08123978660, 081338374351 dan 0818555060.

Email : baliestate04@gmail.com



Baca Selengkapnya......

4 Agt 2008

Puri dan Gria di Pulau Dewata


MENURUT sejarah perkembangannya, orang-orang yang pertama kali menghuni Bali disebut Bali Mula. Para imigran dari India, yang masuk kemudian disebut Bali Aga/Bali Pegunungan. Sekitar abad ke 14, Bali dikuasai Majapahit sehingga masuklah orang-orang dari Majapahit ke Bali. Orang-orang dari Majapahit tersebut kemudian disebut sebagai Bali Arya. Bali Mula dan Bali Aga kemudian bertempat tinggal di daerah pegunungan, sementara Bali Arya di dataran atau kota-kota kerajaan.
Berdasarkan pelapisan sosialnya, orang Bali Arya dikategorikan sebagai orang-orang yang berkasta Brahmana, Ksatria, dan Wesia.
Wilayah Bali terdiri dari dua bagian, yaitu Bali Pegunungan yang disebut Bali Aga dan Bali Dataran. Daerah pegunungan merupakan tempat yang dianggap keramat karena di daerah-daerah tersebut terletak kuil-kuil (pura) yang dianggap suci.
Sistem mata pencaharian hidup orang Bali dapat dikelompokkan dalam bentuk pertanian, industri, dan jasa. Pola perkampungan penduduk Bali pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tata nilai ritual, menempatkan zona sakral di bagian kangin (timur) sebagai arah terbitnya matahari sebagai yang diutamakan. Faktor kondisi dan potensi alam, menempatkan nilia utama ke arah kaja (gunung) dan sebaliknya menganggap rendah arah kelod (laut). Faktor ekonomi, menempatkan nilai utama pada tempat bekerja seperti desa nelayan menghadap ke laut, desa pertanian menghadap ke arah sawah/perkebunan.
Dari segi strukturnya, perkampungan di Bali terdiri dari perkampungan yang mengelompok padat dan perkampungan yang menyebar. Pola perkampungan mengelompok padat bisa dilihat di daerah Bali Pegunungan, seperti desa Tenganan Pegringsingan. Sebaliknya perkampungan dengan pola menyebar banyak terdapat di daerah Bali Dataran.
Rumah Tinggal
Orang Bali yang terdiri dari beberapa lapisan (kasta) menyebut rumah dengan istilah yang berbeda-beda. Bagi kasta Brahmana, rumah disebut Geria. Golongan Ksatria menyebut dengan istilah Puri dan Jero. Istilah Puri dipergunakan jika rumah tersebut ditempati oleh kaum Ksatria yang memegang pemerintahan rumah mereka disebut dengan nama Jero. Rumah tinggal juga disebut dengan istilah Umah, khususnya bagi mereka yang berasal dari kasta Wesia dan mereka yang bukan dari kasta Brahmana dan Ksatria.
Typologi bangunan tradisional disesuaikan dengan tingkat-tingkat golongan utama, madya, dan sederhana. Adapun type-typenya adalah sakepat, sakenem, sakutus, sakaroras. Dalam bangunan Bali ada pula yang disebut kari dan penyengkar. Kori adalah pintu masuk ke pekarangan, sedangkan penyengkar adalah batas pekarangan.
Susunan Ruangan
Konsep dualistik kangin-kauh (sebagai sumbu religi), kaja-kelod (sebagai sumbu bumi) memegang peranan penting dalam menentukan arah bangunan. Bale meten sebagai tempat tidur menghadap kaja, bale untuk ruang upacara/ruang serba guna letaknya kangin tempat memasak atau bale paon letaknya kelod atau kelod kauh. Bale dauh untuk jineng/lumbung padi letaknya kauh. Sumur dan tempat mandi menempati kaja-kauh.
Bagian pekarangan di belakang rumah disebut teba, berfungsi sebagai tempat ternak dan tanaman buah-buahan.
Susunan ruangan dalam bangunan disesuaikan dengan fungsi masing-masing bangunan. Jineng untuk lumbung menyimpan padi, dan di bawahnya untuk balai-balai tempat duduk. Bale paon dan ruang perapian untuk tungku memasak, dan untuk mengawetkan hasil pertanian. Bale sumanggen digunakan untuk ruang upacara adat, ruang tamu, dan ruang serba guna. Ruangannya terdiri dari balai-balai dan pelataran. Bale meten sakutus atau gunung rata berfungsi sebagai tempat tidur.
Sebagai bangunan untuk pemujaan, pura terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi dalam tiga zone. Zone utama disebut jeroan, sebagai tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan. Zone tengah disebut jaba tengah, sebagai tempat persiapan dan pengiring upacara. Zone depan disebut juga jaba sisi, sebagai tempat peralihan dari luar ke dalam pura.
Pekarangan pura dibatasi oleh tembok batas (penyengker) pekarangan. Pintu masuk di depan atau di jabaan memakai candi bentar dan pintu masuk ke jeroan memakai kori agung.
Bangunan pura umumnya menghadap ke barat, sehingga pemujaan dan persembahyangannya menghadap ke timur ke arah terbitnya matahari. Bangunan pura berjajar utara-selatan atau kaja-kelod di sisi timur, menghadap ke barat dan sebagian di sisi kaja menghadap kelod. Bale pawedan dan bale piyasan di sisi barat menghadap ke timur halaman pura.
Ragam Hias
Untuk memperindah bangunan, dibuatlah ragam hias yang dipahatkan, diukirkan, atau ditatahkan. Ragam hias yang digunakan biasanya bermotif flora dan fauna. Motif flora yang sering dipakai dalam ragam hias, antara lain keketusan, kekarangan, dan pepatraan. Ragam hias keketusan mengambil pola tumbuh-tumbuhan. Keketusan wangga melukiskan bunga-bunga besar yang mekar. Keketusan bunga tuwung, berbentuk bunga terung dalam pola liku-liku segi banyak berulang. Keketusan bun-bunan, merupakan hiasan berpola tumbuh-tumbuhan jalar.
Ragam hias kakarangan dibuat mendekati bentuk flora yang ada. Ragam hias jenis ini ada yang disebut karang simbar, karang bunga, dan karang suring. Karang simbar dipakai untuk hiasan sudut bebaturan.
Bentuk ragam hias pepatraan mewujudkan gubahan keindahan hiasan dalam patern-patern yang disebut patra. Ragam hias jenis ini ada beberapa, yaitu patra wangga yang merupakan hiasan kembang mekar, patra sari yang berbentuk flora dari jenis berbatang menjalar dan melingkar-lingkar, patra bun-bunan, patra pidpid, patra punggel, patra samblung, patra pae, dan lain-lain.
Ragam hias pada bangunan tradisional pada umumnya memperlihatkan warna asli, warna bahan yang merupakan warna alam. Di samping warna asli juga digunakan warna buatan sebagai bentuk hiasan. Warna buatan biasanya adalah biru, merah, dan kuning. Keseluruhan ragam hias yang digunakan dalam bangunan diwujudkan dalam bentuk ukiran, tatahan, pepulasan, pepalihan, dan lelengisan.
Selain bermotifkan flora, ragam hias bangunan juga menggunakan motif fauna. Gambar-gambar fauna diukirkan pada bidang relief di dinding, panil atau bidang-bidang ukiran lainnya. Ukiran fauna tersebut umumnya mengambil dari cerita rakyat/legenda tantri dari dunia binatang. Penampilan fauna dalam bentuk patung bercorak ekspresionis, pada kakarangan bercorak abstrak, dan pada relief bercorak realis.
Fauna sebagai hiasan berfungsi sebagai simbol ritual, ditampilkan dalam bentuk patung yang disebut pratima. Sebagai elemen bangunan yang berfungsi ragam hias, fauna dikenakan untuk sendi alas tiang dalam bentuk garuda, singa bersayap, atau bentuk-bentuk lainnya.
Ragam hias dari jenis fauna ditampilkan sebagai materi hiasan dalam berbagai macam dengan nama masing-masing, di antaranya adalah kekarangan, yang mengambil bentuk binatang gajah, atau binatang khayal primitif. Ragam hias jenis ini antara lain adalah karang boma, karang sae, karang asti, karang goak, karang tapel, karang bentulu. Selain kekarangan ada pula patung, yang mengambil bentuk dewa-dewa imajinasi. Ragam hias jenis ini antara lain berbentuk patung garuda, singa, lembu, naga, kura-kura, kera, dan lain-lainnya.


Baca Selengkapnya......

Arsitektur Tradisional Bali


Tradisi dapat diartikan sebagai kebiasaan yang turun temurun dalam suatu masyarakat yang merupakan kesadaran kolektif dengan sifatnya yang luas, meliputi segala aspek dalam kehidupan. Arsitektur tradisional Bali dapat diartikan sebagai tata ruang dari wadah kehidupan masyarakat Bali yang telah berkembang secara turun-temurun dengan segala aturan-aturan yang diwarisi dari jaman dahulu, sampai pada perkembangan satu wujud dengan ciri-ciri fisik yang terungkap pada rontal Asta Kosala-Kosali, Asta Patali dan lainnya, sampai pada penyesuaian-penyesuaian oleh para undagi yang masih selaras dengan petunjuk-petunjuk dimaksud.
Arsitektur tradisional Bali yang kita kenal, mempunyai konsep-konsep dasar yang mempengaruhi tata nilai ruangnya. Konsep dasar tersebut adalah:
•Konsep hirarki ruang, Tri Loka atau Tri Angga
•Konsep orientasi kosmologi, Nawa Sanga atau Sanga Mandala
•Konsep keseimbangan kosmologi, Manik Ring Cucupu
•Konsep proporsi dan skala manusia
•Konsep court, Open air
•Konsep kejujuran bahan bangunan
Tri Angga adalah konsep dasar yang erat hubungannya dengan perencanaan arsitektur, yang merupakan asal-usul Tri Hita Kirana. Konsep Tri Angga membagi segala sesuatu menjadi tiga komponen atau zone:
•Nista (bawah, kotor, kaki),
•Madya (tengah, netral, badan) dan
•Utama (atas, murni, kepala)
Ada tiga buah sumbu yang digunakan sebagai pedoman penataan bangunan di Bali, sumbu-sumbu itu antara lain:
•Sumbu kosmos Bhur, Bhuwah dan Swah (hidrosfir, litosfir dan atmosfir)
•Sumbu ritual kangin-kauh (terbit dan terbenamnya matahari)
•Sumbu natural Kaja-Kelod (gunung dan laut)
Dari sumbu-sumbu tersebut, masyarakat Bali mengenal konsep orientasi kosmologikal, Nawa Sanga atau Sanga Mandala. Transformasi fisik dari konsep ini pada perancangan arsitektur, merupakan acuan pada penataan ruang hunian tipikal di Bali

Bangunan Hunian
Hunian pada masyarakat Bali, ditata menurut konsep Tri Hita Karana. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci, digunakan sebagai tempat pemujaan, Pamerajan (sebagai pura keluarga). Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah, merupakan arah masuk ke hunian.
Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan aling-aling, yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi), tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Pada bagian ini terdapat bangunan Jineng (lumbung padi) dan paon (dapur). Berturut-turut terdapat bangunan-bangunan bale tiang sangah, bale sikepat/semanggen dan Umah meten. Tiga bangunan (bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam) merupakan bangunan terbuka.
Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan pusat dari hunian. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga, atau anak gadis. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding, sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga).
Hunian tipikal pada masyarakat Bali ini, biasanya mempunyai pembatas yang berupa pagar yang mengelilingi bangunan/ruang-ruang tersebut diatas.

Kajian Ruang Luar dan Ruang Dalam
Mengamati hunian tradisional Bali, sangat berbeda dengan hunian pada umumnya. Hunian tunggal tradisional Bali terdiri dari beberapa masa yang mengelilingi sebuah ruang terbuka. Gugusan masa tersebut dilingkup oleh sebuah tembok/dinding keliling. Dinding pagar inilah yang membatasi alam yang tak terhingga menjadi suatu ruang yang oleh Yoshinobu Ashihara disebut sebagai ruang luar. Jadi halaman di dalam hunian masyarakat Bali adalah sebuah ruang luar. Konsep pagar keliling dengan masa-masa di dalamnya memperlihatkan adanya kemiripan antara konsep Bali dengan dengan konsep ruang luar di Jepang. Konsep pagar keliling yang tidak terlalu tinggi ini juga sering digunakan dalam usaha untuk "meminjam" unsur alam ke dalam bangunan.
Masa-masa seperti Uma meten, bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam, lumbung dan paon adalah masa bangunan yang karena beratap, mempunyai ruang dalam. Masa-masa tersebut mempunyai 3 unsur kuat pembentuk ruang yaitu elemen lantai, dinding dan atap (pada bale tiang sanga, bale sikepat maupun bale sekenam dinding hanya 2 sisi saja, sedang yang memiliki empat dinding penuh hanyalah uma meten).
Keberadaan tatanan uma meten, bale tiang sanga, bale sikepat dan bale sekenam membentuk suatu ruang pengikat yang kuat sekali yang disebut natah. Ruang pengikat ini dengan sendirinya merupakan ruang luar. Sebagai ruang luar pengikat yang sangat kuat, daerah ini sesuai dengan sifat yang diembannya, sebagai pusat orientasi dan pusat sirkulasi.
Pada saat tertentu natah digunakan sebagai ruang tamu sementara, pada saat diadakan upacara adat, dan fungsi natah sebagai ruang luar berubah, karena pada saat itu daerah ini ditutup atap sementara/darurat. Sifat Natah berubah dari 'ruang luar' menjadi 'ruang dalam' karena hadirnya elemen ketiga (atap) ini. Elemen pembentuk ruang lainnya adalah lantai tentu, dan dinding yang dibentuk oleh ke-empat masa yang mengelilinginya. Secara harafiah elemen dinding yang ada adalah elemen dinding dari bale tiang sanga, bale sikepat dan bale sekenam yang terjauh jaraknya dari pusat natah. Apabila keadaan ini terjadi, maka adalah sangat menarik, karena keempat masa yang mengelilinginya ditambah dengan natah (yang menjadi ruang tamu) akan menjadi sebuah hunian besar dan lengkap seperti hunian yang dijumpai sekarang. Keempatnya ditambah natah akan menjadi suatu 'ruang dalam' yang 'satu', dengan paon dan lumbung adalah fungsi service dan pamerajan tetap sebagai daerah yang ditinggikan. Daerah pamerajan juga merupakan suatu ruang luar yang kuat, karena hadirnya elemen dinding yang membatasinya.

Kajian Ruang Positif dan Ruang Negatif
Sebagai satu-satunya jalan masuk menuju ke hunian, angkul-angkul berfungsi sebagai gerbang penerima. Kemudian orang akan dihadapkan pada dinding yang menghalangi pandangan dan dibelokan ke arah sembilan-puluh derajat. Keberadaan dinding ini (aling-aling), dilihat dari posisinya merupakan sebuah penghalang visual, dimana ke-privaci-an terjaga. Hadirnya aling-aling ini, menutup bukaan yang disebabkan oleh adanya pintu masuk. Sehingga dilihat dari dalam hunian, tidak ada perembesan dan penembusan ruang. Keberadaan aling-aling ini memperkuat sifat ruang positip yang ditimbulkan oleh adanya dinding keliling yang disebut oleh orang Bali sebagai penyengker. Ruang di dalam penyengker, adalah ruang dimana penghuni beraktifitas. Adanya aktifitas dan kegiatan manusia dalam suatu ruang disebut sebagai ruang positip. Penyengker adalah batas antara ruang positip dan ruang negatip.
Dilihat dari kedudukannya dalam nawa-sanga, "natah" berlokasi di daerah madya-ning-madya, suatu daerah yang sangat "manusia". Apalagi kalau dilihat dari fungsinya sebagai pusat orientasi dan pusat sirkulasi, maka natah adalah ruang positip. Pada natah inilah semua aktifitas manusia memusat, seperti apa yang dianalisa Ashihara sebagai suatu centripetal order.
Pada daerah pamerajan, daerah ini dikelilingi oleh penyengker (keliling), sehingga daerah ini telah diberi "frame" untuk menjadi sebuah ruang dengan batas-batas lantai dan dinding serta menjadi 'ruang-luar' dengan ketidak-hadiran elemen atap di sana.Nilai sebagai ruang positip, adalah adanya kegiatan penghuni melakukan aktifitasnya disana.
Pamerajan atau sanggah, adalah bangunan paling awal dibangun, sedang daerah public dan bangunan service (paon, lumbung dan aling-aling) dibangun paling akhir.
Proses ini menunjukan suatu pembentukan berulang suatu ruang-positip; dimana ruang positip pertama kali dibuat (Pamerajan atau sanggah), ruang diluarnya adalah ruang-negatip. Kemudian ruang-negatip tersebut diberi 'frame' untuk menjadi sebuah ruang-positip baru. Pada ruang positip baru inilah hadir masa-masa uma meten, bale tiang sanga, pengijeng, bale sikepat, bale sekenam, lumbung, paon dan lain-lain. Kegiatan serta aktifitas manusia terjadi pada ruang positip baru ini.

Konsistensi dan Konsekuensi
Tidak seperti di beberapa belahan bumi yang lain dimana sebuah bangunan (rumah, tempat ibadah) berada dalam satu atap, di Bali yang disebut sebuah bangunan hunian adalah sebuah halaman yang dikelilingi dinding pembatas pagar dari batu bata dimana didalamnya berisi unit-unit atau bagian-bagian bangunan terpisah yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Sebuah hunian di Bali, sama dengan dibeberapa bagian dunia yang lain mempunyai fungsi-fungsi seperti tempat tidur, tempat bekerja, tempat memasak, tempat menyimpan barang (berharga dan makanan), tempat berkomunikasi, tempat berdoa dan lain-lain. Ruang-ruang, sebagai wadah suatu kegiatan contoh untuk aktivitas tidur, di Bali merupakan sebuah bangunan yang berdiri sendiri.Sedang dilain pihak secara umum sebuah ruang tidur merupakan bagian sebuah bangunan.Ruang tidur adalah bagian dari ruang-dalam atau interior. Uma meten, Bale sikepat, Bale sekenam, Paon merupakan massa bangunan yang berdiri sendiri. Menurut Yoshinobu Ashihara ruang-dalam adalah ruang dibawah atap, sehingga Uma meten dan lain-lain adalah juga ruang-dalam atau interior.Ruang diluar bangunan tersebut (natah) adalah ruang luar, karena kehadirannya yang tanpa atap. Apabila bagian-bagian bangunan Hunian Bali dikaji dengan kaidah-kaidah 'Ruang luar-Ruang dalam', terutama juga apabila bagian-bagian hunian Bali dilihat sebagai massa per massa yang berdiri sendiri, maka adalah konsekuensi apabila pusat orientasi sebuah hunian adalah ruang luar (natah) yang juga pusat sirkulasi.Pada kenyataannya ruang ini adalah bagian utama (yang bersifat 'manusia') dari hunian Bali.
Apabila dikaji dari rumusan suatu hunian, maka natah adalah bagian dari aktifitas utama sebuah hunian yang sudah selayaknya merupakan bagian dari aktivitas ruang-dalam atau interior. Kemudian apabila dikaitkan dengan keberadaan bale sikepat, bale sekenam dan bale tiang sanga yang hanya memiliki dinding dikedua sisinya saja, serta posisi masing-masing dinding yang 'membuka' ke arah natah jelaslah terjadi sebuah ruang yang menyatu. Sebuah ruang besar yang menyatukan uma meten disatu sisi dan bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam serta natah yang layaknya sebuah hunian. Hunian yang sama dengan yang ada pada masa kini, dimana bale-bale adalah ruang tidur, natah adalah ruang tempat berkumpul yang bisa disebut sebagai ruang keluarga. Apabila dikaitkan lebih jauh, jika kegiatan paon (dapur) bisa disamakan dengan kegiatan memasak dan ruang makan, maka hunian Bali, teryata identik dengan hunian-hunian berbentuk flat pada hunian orang Barat.
Kajian terhadap hunian Bali ini, apabila hunian tersebut dipandang sebagai satu kesatuan utuh rumah tinggal, konsekuensinya adalah ruang didalam penyengker (dinding batas) adalah ruang-dalam. Bangunan dalam hunian Bali tidak dilihat sebagai massa tetapi harus dilihat sebagai ruang didalam ruang. Apalagi bila dilihat kehadiran dinding-dinding pada bale tiang sanga, bale sikepat maupun sekenam yang 'membuka' kearah yang me-enclose ruang, maka keadaan ini memperkuat kehadiran nuansa ruang-dalam atau interior pada hunian tradisional Bali. Dengan kondisi demikian maka penyengker adalah batas antara ruang-dalam dan ruang-luar (jalan desa). Hal ini ternyata memiliki kesamaan dengan pola yang ada di Jepang, yang oleh Ashihara (1970) dinyatakan:
..................Japanese wooden houses do not directly face the street but surrounded by fences. Since the garden is invisible from the street, it is ruled by the order inside the house............... ......................................
..................in the case of Japanese houses, garden are ruled by interior order, and fences serve as boundaries to separate interior from exterior space.
Pada kajian ini terlihat adanya kesamaan sifat halaman sebagai ruang-dalam atau interior pada hunian arsitektur tradisional Bali maupun arsitektur tradisional Jepang. Meskipun pada hunian Bali kesan ruang-dalam lebih terasa dan jelas dibandingkan dengan hunian Jepang.
Kajian ini semakin menarik apabila dikaitkan dengan teori Yoshinubo Ashihara diatas; bahwa ruang-luar adalah ruang yang terjadi dengan membatasi alam yang tak terhingga (dengan batas/pagar dll) dan juga ruang-luar adalah ruang dimana elemen ketiga dari ruang (yaitu atap) tidak ada. Dilain pihak ruang-dalam adalah lawan dari ruang-luar (dimana terdapat elemen ruang yang lengkap yaitu alas, dinding dan atap). Maka pada kasus hunian, teori Yoshinobu Ashihara ternyata saling bertentangan. Baik pertentangan antara ruang-luar terhadap ruang-dalam dikaitkan dengan terjadinya maupun keterkaitan dengan elemen alas, dinding dan atap.
Pada hunian Jepang, dikatakan oleh Yoshinobu Ashihara dinding pagar adalah batas antara ruang-dalam dan ruang-luar. Pada hunian Bali, penyengker berfungsi sama dengan hal tersebut. Penyengker bisa menghadap alam bebas, tetangga maupun jalan desa. Pada kasus penyengker menghadap jalan desa, kemudian jalan desa menghadap penyengker bangunan yang lain, maka jalan desa adalah ruang luar yang positip. Pada jalan desa terjadi aktivitas dimana masyarakat menggunakan baik untuk kegiatan sehari-hari maupun sarana kegiatan prosesi ritual dan seni. Aktifitas yang memusat ke dalam (centripetal order) ini disebut Yoshinobu Ashihara, ruang positip.


Baca Selengkapnya......

28 Jul 2008

Tata Cara Membangun Rumah Menurut Masyarakat Hindu Bali


Landasan filosofis.
•Hubungan Bhuwana Alit dengan Bhuwana Agung.
Pembangunan perumahan adalah berlandaskan filosofis bhuwana alit bhuwana agung. Bhuwana Alit yang berasal dari Panca Maha Bhuta adalah badan manusia itu sendiri dihidupkan oleh jiwatman. Segala sesuatu dalam Bhuwana Alit ada kesamaan dengan Bhuwana Agung yang dijiwai oleh Hyang Widhi. Kemanunggalan antara Bhuwana Agung dengan Bhuwana Alit merupakan landasan filosofis pembangunan perumahan umat Hindu yang sekaligus juga menjadi tujuan hidup manusia di dunia ini.
•Unsur- unsur pembentuk.
Unsur pembentuk membangun perumahan adalah dilandasi oleh Tri Hit a Karana dan pengider- ideran (Dewata Nawasanga). Tri Hita Karana yaitu unsur Tuhan/ jiwa adalah Parhyangan/ Pemerajan. Unsur Pawongan adalah manusianya dan Palemahan adalah unsur alam/ tanah. Sedangkan Dewata Nawasanga (Pangider- ideran) adalah sembilan kekuatan Tuhan yaitu para Dewa yang menjaga semua penjuru mata angin demi keseimbangan alam semesta ini.
Landasan Etis
•Tata Nilai.
Tata nilai dari bangunan adalah berlandaskan etis dengan menempatkan bangunan pemujaan ada di arah hulu dan bangunan- bangunan lainnya ditempatkan ke arah teben (hilir). Untuk lebih pastinya pengaturan tata nilai diberikanlah petunjuk yaitu Tri Angga adalah Utama Angga, Madya Angga dan Kanista Angga dan Tri Mandala yaitu Utama, Madya dan Kanista Mandala
•Pembinaan hubungan dengan lingkungan.
Dalam membina hubungan baik dengan lingkungan didasari ajaran Tat Twam Asi yang perwujudannya berbentuk Tri Kaya Parisudha
Landasan ritual
Dalam mendirikan perumahan hendaknya selalu dilandaskan dengan upacara dan upakara agama yang mengandung makna mohon ijin, memastikan status tanah serta menyucikan, menjiwai, memohon perlindungan Ida Sang Hyang Widhi sehingga terjadilah keseimbangan antara kehidupan lahir dan batin.

Konsepsi perwujudan
Konsepsi perwujudan perumahan umat Hindu merupakan perwujudan landasan dan tata ruang, tata letak dan tata bangunan yang dapat dibagi dalam:
•Keseimbangan alam
•Rwa Bhineda, Hulu- teben, Purusa- Pradhana
•Tri Angga dan Tri Mandala.
•Harmonisasi dengan lingkungan.
•Keseimbangan Alam:   Wujud perumahan umat Hindu menunjukkan bentuk keseimbangan antara alam Dewa, alam manusia dan alam  Bhuta (lingkungan) yang diwujudkan dalam satu perumahan terdapat tempat pemujaan tempat tinggal dan pekarangan dengan penunggun karangnya yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.
•Rwa Bhineda, Hulu Teben, Purusa Pradhana. Rwa Bhineda diwujudkan dalam bentuk hulu teben (hilir). Yang dimaksud dengan hulu adalah arah/ terbit matahari, arah gunung dan arah jalan raya (margi agung) atau kombinasi dari padanya. Perwujudan purusa pradana adalah dalam bentuk penyediaan natar. sebagai ruang yang merupakan pertemuan antara Akasa dan Pertiwi.
•Tri Angga dan Tri Mandala. Pekarangan Rumah Umat Hindu secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian (Tri Mandala) yaitu Utama Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai utama (seperti tempat pemujaan). Madhyama Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai madya (tempat tinggal penghuni)
dan Kanista Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai kanista (misalnya: kandang).
Secara vertikal masing- masing bangunan dibagi menjadi 3 bagian (Tri Angga) yaitu 1.Utama Angga adalah atap,Madhyama angga adalah badan bangunan yang terdiri dari
tiang dan dinding, serta Kanista Angga adalah batur (pondasi).
•Harmonisasi dengan potensi lingkungan.
Harmonisasi dengan lingkungan diwujudkan dengan memanfaatkan potensi setempat seperti bahan bangunan dan prinsip- prinsip bangunan Hindu

Baca Selengkapnya......

Siasat Dapur yang Sempit


DAPUR sebagai area servis utama dalam hunian memegang peranan sangat strategis demi menunjang berjalannya sebuah sistem di rumah.

Namun, tidak semua orang dapat memiliki dapur yang indah dan luas sehingga kita dapat merasa nyaman beraktivitas di dalamnya. Bagaimana caranya kita bisa memasak dengan nyaman di dapur padahal area rumah ataupun dapur sangat terbatas?

Lahan kecil sebetulnya bisa dibuat terasa lega dengan melakukan pengaturan peralatan dalam cara yang tepat. Punya dapur kecil tapi efisien tentu akan memberi kesenangan yang sama dengan kita memiliki atau beraktivitas di dapur yang luas. Kuncinya, kita harus kreatif dan inovatif pada saat mengatur dan mengorganisasikan dapur guna mendapatkan pengaturan furnitur yang terbaik. Demikian pula penempatan sink cuci piring, peletakan lemari penyimpanan dan laci-lacinya. Kita dapat menerapkan banyak hal yang akan kita bahas secara lebih detail dalam artikel di bawah ini. Agar segala sesuatunya dapat teratur dan tertangani dengan tepat.

Mari kita bahas poin pertama, yakni memilih barang atau peralatan. Pilihlah barang atau peralatan yang sangat penting saja untuk diletakkan di dapur. Jangan meletakkan sekumpulan peralatan memasak yang besar atau yang berpotensi membuat penuh ruangan, padahal tidak pernah atau sangat jarang digunakan.

Buatlah daftar peralatan berdasarkan prioritas dari penting, agak penting, sampai dengan sangat penting yang ingin digunakan serta diletakkan di dapur. Kemudian pilihlah barang yang sangat penting saja sehingga kita dapat melihat seberapa besar penghematan ruang yang bisa didapatkan. Kalau memang masih memungkinkan meletakkan barang tersebut di luar atau selain di dapur, maka lakukanlah.

Poin kedua, pengaturan dan pemilihan furnitur yang tepat. Kita harus memprioritaskan penggunaan furnitur multifungsi atau dapat digunakan untuk beragam kegiatan. Misalnya meja kotak, atau lebih baik lagi berupa meja lingkaran yang menghemat tempat dan diletakkan di tengah ruangan. Meja ini dapat diakses dari beberapa arah dan kita dapat menggunakannya untuk memotong daging, mengiris bawang, atau menyiangi sayuran.

Sisakan bagian di atas dinding dan siapkanlah penggantung agar dapat digunakan sebagai tempat menggantung alat-alat masak. Gunakanlah kursi lipat agar dapat digeser dan disimpan jika sedang tidak dipakai. Ini akan lebih menghemat tempat.

Ketiga, pengaturan media penyimpanan seperti kabinet dan laci. Atur peletakan lacilaci dan besaran lemari penyimpanan dalam ukuran yang sesuai. Atur juga pintupintu dan laci kabinet dengan tarikan yang tersembunyi guna menghindari benturan antara tarikan dan bendabenda di depannya. Buatlah lemari penyimpan atau kabinet yang tinggi guna menampung peralatan yang jarang digunakan. Buatlah tempat berupa kotak yang mudah dibawa untuk menampung dan menyimpan barang seperti alas talenan, panci, nampan, dan peralatan lainnya guna disingkirkan dan dibawa kembali jika dibutuhkan. Manfaatkan bagian atas kompor, utamanya sisa ruang dekat penyedot asap atau cerobong guna menyimpan barang-barang kecil.

Pilihlah bentuk top table maupun kabinet dan tarikan handel dengan bentuk yang simpel ataupun berbentuk serupa garis lurus untuk mendapatkan kesan sederhana dan bersih. Kemudian hindarilah penggunaan bentuk-bentuk yang banyak memiliki ornamen dan detail yang sering diasosiasikan dengan bentuk klasik maupun etnik.

Terakhir, pilihlah sink atau tempat mencuci piring yang tepat. Kita dapat menggunakan sink

Untuk kenyamanan, sebaiknya meja kerja dapur diatur ketinggiannya sesuai proporsi tinggi badan Anda agar nyaman saat sedang bekerja. Demikian pula ketinggian kabinet bagian atas, harus masih dalam jangkauan tangan. bersudut atau berbentuk huruf L sebagai tempat mencuci. Atau dapat juga menggunakan sink dengan satu lubang dibandingkan dua lubang berdampingan. Pilih keran yang dapat digeser arah semprotannya sehingga memudahkan kita pada saat membersihkan piring dan mangkuk, maupun pada saat membilasnya.


Baca Selengkapnya......

Marmer memberikan kesan mewah


MEMASANG material marmer pada lantai bisa jadi simbol kemewahan sebuah hunian. Kilau yang timbul dari susunan polanya yang unik benar-benar menggemaskan.

Namun, jangan lupa pada ungkapan "tak kenal maka tak sayang". Sebelum memilih menerapkannya pada hunian, mari kita pelajari lebih dalam tentang batu alam ini.

Marmer sebenarnya tak hanya bisa dijadikan sebagai material lantai. Aksen dinding, meja, sampai kursi juga banyak yang menggunakan batu alam yang merupakan metamorfosis dari batu kapur ini. Namun, seperti yang Anda tahu, lantai marmer lebih jadi favorit karena selain mewah, juga mampu menurunkan suhu ruangan. Bisa dijadikan alasan untuk hemat energi juga lho!

Awalnya,marmer jadi barang mahal karena langka dan tergantung hasil alam. Sedangkan faktor lainnya adalah proses pembuatannya sendiri yang melewati pemotongan, pemilihan motif yang tergantung jenis sumber daya alamnya, dan finishing akhir pabrikan tersebut.

Untuk pembeda, marmer yang mahal dan murah berasal dari sistem seleksi produsen. Pengelompokan berdasarkan kelas ini ditentukan dari pola yang diciptakan serta kelangkaan jenisnya. Walaupun marmer yang kita pakai merupakan hasil produksi dalam negeri, bukan berarti bisa murah.

Nah, mari kita mulai langkah aplikasi marmer pada rumah Anda. Dimulai dari tahap memilih, ada tiga hal yang patut diperhatikan. Yang pertama ialah kandungan unsur materialnya harus seimbang. Biasanya produsen berani melakukan uji teknis terhadap produk tersebut.

Langkah kedua dengan memperhatikan teksturnya. Marmer dengan tekstur natural lebih eksklusif dibandingkan hand made. Sedangkan langkah ketiga bisa dengan melihat keretakan yang ditimbulkan. Cara ini gampang, Anda hanya perlu melihat tampilan permukaannya, bisa kan?

Untuk pilihan marmer lokal, banyak yang sudah pantas dijadikan lantai Anda. Selain harga yang lebih murah dibandingkan marmer impor, buatan lokal juga cenderung lebih natural.

Marmer Lampung misalnya. Jenis ini punya warna dasar abu-abu mengkilap, urat berwarna putih dan abu-abu kehitaman. Tampilannya halus tanpa lubang, transparan, keras, dan merupakan jenis marmer kristalin. Kemudian marmer Ujung Pandang, warnanya krem agak putih (beige), urat berwarna putih dan merah muda, keras, juga mengkilap. Sedangkan marmer Tulungagung, warna dasar kremnya disertai urat berwarna merah serta bercak kecokelatan. Karakternya tidak jauh beda dengan buatan daerah lain, yaitu keras dan mengilap.

Berikutnya marmer asal Bandung. Warnanya sama dengan marmer Tulungagung, namun dia memiliki urat dasar kekuningan dan biru. Yang terakhir dari Poso. Marmer asal daerah Timur Indonesia ini sedikit unik dengan warna agak kehijauan selain yang kremnya. Urat berwarna putih serta merupakan marmer kristalin yang berkarakter getas. Jenis ini tidak terlalu banyak di pasaran.
Baca Selengkapnya......

23 Jul 2008

Memilih Arsitek Rumah


Memiliki rumah yang bagus dan sesuai selera serta gaya hidup, tentulah dambaan semua orang. Hal seperti itu belum tentu bisa diwujudkan apabila kita membeli rumah jadi. Sebab membeli rumah jadi berarti kita memakai desain dan konsep orang lain. Belum tentu desain tersebut sesuai dengan keinginan dan gaya yang kita miliki. Lalu bagaimana agar bisa memiliki rumah yang menjadi idaman kita? Caranya dengan mengonsep, mendesain, dan membangun sendiri sebuah rumah.
Untuk membangun rumah mulai dari konsep, desain, dan sebagainya , diperlukan perancang bangunan (arsitek) yang bisa mentransfer ide dan keinginan kita ke dalam sebuah rancangan bangunan. Dengan memilih seorang arsitek yang benar-benar berkualitas, gambaran tentang sebuah rumah ideal yang ada dalam pikiran kita bisa menjadi kenyataan.
Seorang arsitek bertugas merancang segala sesuatu yang berkaitan dengan rancang bangunan hingga akhirnya menjadi sebuah bangunan. Di sini sudah termasuk proses pengawasan hingga bangunan jadi.
Tugas arsitek bermula dari permintaan atau pesanan klien. Mereka kemudian mengonsep permintaan dan keinginan klien itu ke dalam sebuah rancangan yang didasarkan pada standardisasi ilmu arsitektur. Pada proses ini arsitek akan memberikan saran kepada klien tentang bentuk bangunan yang sesuai dengan keinginan dan kondisi tekstur tanahnya.
Ketika hasil rancangan tersebut disetujui oleh klien, maka ada kontrak kerja dengan klien guna memvisualisasikan rancangan itu hingga menjadi sebuah bangunan utuh. Pada kontrak tersebut tertera segala aturan main mengenai proses pembuatan bangunan.
Memilih arsitek yang bisa menerjemahkan keinginan kita tentu tidak mudah. Berikut ini beberapa hal yang perlu Anda lakukan sebelum memilih arsitek yang akan membuat konsep rumah atau bangunan Anda.
1. Kenali macam-macam gaya arsitektur untuk diwujudkan dalam rumah Anda. Anda bisa memilih gaya global, seperti gaya Eropa, Timur Tengah, atau gaya Jawa khas dengan bentuk pendoponya, dan sebagainya.
Setelah menentukan gaya apa, barulah Anda memilih seorang arsitek yang bisa menerjemahkan kemauan dan gaya yang Anda tentukan tadi. Makin jelas keinginan dan gaya yang Anda kehendaki, makin mudah bagi arsitek untuk mewujudkannya dalam sebuah rancangan bangunan.
2. Setiap arsitek, khususnya yang sudah berpengalaman, akan memiliki gaya dan kekhasan tersendiri yang menjadi trade mark-nya. Kenali berbagai karya arsitek yang hendak Anda pilih. Tentukan pilihan pada arsitek yang memiliki gaya sesuai dengan keinginan dan gaya yang Anda miliki. Kesesuaian ini akan makin memperbesar kemungkinan terwujudnya gaya rumah idaman Anda.
3. Arsitek yang baik akan berusaha semaksimal mungkin menerjemahkan keinginan dan gaya Anda ke dalam sebuah rancangan. Jika Anda sudah memutuskan untuk memilih seorang arsitek, maka pada proses berikutnya diperlukan diskusi dan kerja sama yang baik antara Anda dengan sang arsitek. Sering-seringlah mengadakan diskusi dan tukar pemikiran agar arsitek benar-benar memahami apa yang menjadi keinginan Anda.


Baca Selengkapnya......